Jumat, 08 November 2013

Bicara pada Langit

Angin membawa uap dari butir-butir air ke langit, awan berusaha menangkapnya, ketika awan sudah tak mampu menahannya ia akan mengembalikannya pada angin untuk membawanya ke bumi.


Apakah aku sudah berdiri tegak ??
Aku tidak ingin seperti awan, melindungi air hanya sesaat, pada akhirnya awan menghempaskannya ke bumi.
Aku tidak ingin berdiri terlalu tegak, itu yang ingin aku katakan.
Sepi, sendiri tidak ada tempat untuk mengadu.

Ketika aku teringat hal ini, aku sering bertanya.
Sudah mantapkah jalan yang kupilih??
kelebihan dan kekurangannya telah menunggu untuk ku tempuh.


Tapi kali ini, ahh...
Aku merasa ingin mundur saja.
Aku tidak sekuat air ketika awan membuatnya jatuh terhempas, air akan kembali mengikuti angin dan memeluk awan.
Aku tidak ingin dihempaskan, aku ingin berada pada zona aman.
Egois kedengarannya, tapi itu lah harapan.
Entah apa yang ku katakan kali ini ..
Aku tak mampu mengatakan apa-apa lagi.

Langit menemani setiap langkahku, ia selalu menemukanku.
Langit tau aku mencari bintang ketika sesekali melihatnya.
Langit sadar ketika tak ada bintang, tidak ada yang mau melihatnya.
Tapi, tanpa langit ??
Aku merindukan langit, ketika aku tau bintang itu terlalu jauh untuk ku genggam.
Aku kecewa, karena baru ku tau bintang tak kunjung menghampiriku.

Jika boleh dikata,
Andai saja langit tidak berhenti memelukk.
Sekarang, DIA langit, dan aku hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa.

1 komentar:

  1. Jawab langit : Kalau,, engkau bisa merasakan,,, langit pun sangat merindukanmu.. knpa tak kau tanyakan langsung... berharap bisa bersama lgi.. miss u

    BalasHapus