Minggu, 14 Februari 2016

:: 10 Kebiasaan Ini Akan Membuat Kamu Menyesal 10 Tahun Lagi ::

:: 10 Kebiasaan Ini Akan Membuat Kamu Menyesal 10 Tahun Lagi ::


Pernah baca buku The Power of Habit karangan Charles Duhigg? Buku itu memaparkan betapa kebiasaan kamu pada akhirnya akan membentuk pola pikir dan pilihan-pilihan kamu dalam hidup. Ini berarti, membentuk kebiasaan sama dengan membentuk masa depan kamu.

Sekarang bayangkan deh, 10 tahun lagi kamu mau jadi apa? Sesukses apa? Pastinya kamu ingin sukses dan bahagia dong ya.. Nah, ada beberapa kebiasaan yang mungkin akan membuat kamu menyesal nantinya kalau kamu tetap pertahankan kebiasaan-kebiasaan ini.

Kenapa bisa begitu? Karena kebiasaan-kebiasaan ini sedikit banyak membuat pola pikir kamu menjadi negatif dan pemalas. Jadi, kalau kamu punya salah satu dari 10 kebiasaan ini, mulai kurangi dari sekarang yuk..

1. Malas

Duh, Percaya deh, kebiasaan yang satu ini tidak akan membawa kamu kemanapun. Tidak ada miliader yang mendapatkan uangnya dari mainin Angry Birds kan? Kalau kamu mau sesuatu, ya kamu harus memperjuangkannya. No pain, no gain kawan.

2. Menunda-nunda pekerjaan

“Duh nanti aja deh.” “Belum mood nih.” and it goes on, and on, and on… Selalu ada alasan untuk menunda sesuatu. Apa sih efek dari terlalu sering menunda ini? Ya.. nantinya kamu akan terkenal sebagai orang yang tidak punya integritas dan komitmen. Coba, kalau ada teman kamu yang kepintarannya biasa aja, tapi selalu tepat waktu mengerjakan deadline tugas, dengan kamu yang selalu menunda, bos akan pilih siapa? Sederhana kan?

3. Terlalu rempong mengurusi hal-hal kecil

Menjadi orang yang detail itu bagus, tapi terlalu detail sampai ke hal-hal yang kecil sampai kamu dirasa oleh orang lain sebagai perfeksionis brutal yang tidak percaya sama timnya sendiri, well.. it ain’t good, for your team as well as yourself. Percaya deh, orang lain kompeten kok, dan tidak semuanya harus benar-benar sesempurna yang kamu bayangkan. It’s life, imperfection it’s a part of it. Deal with it.

4. Merendahkan standarmu

Kamu harus punya standar buat segalanya. Jangan terima kalau pacar kamu nyakitin kamu terus-menerus. Jangan terima kalau kamu diperlakukan tidak baik oleh bosmu. Tetapkan standar, hargai diri kamu sendiri. Don’t ever settle for less than you want.

5. Menyerah

Banyak orang sukses itu lahir dari keadaan yang sulit dan keras. Coba deh baca cerita biografi orang-orang besar seperti Obama, Jokowi, atau Eminem. Mereka sukses bukan karena mereka langsung berhasil mewujudkan mimpi mereka dalam waktu singkat. Pemenang sejati adalah orang-orang yang tidak pernah menyerah walaupun diterpa kesulitan-kesulitan tiada henti.

6. Takut akan perubahan

Perubahan itu tidak bisa dihindari. Dunia akan selalu berubah, dan yang bisa kamu lakukan adalah menghadapinya. Lalu, kalau kamu tidak suka dampak dari perubahan itu gimana? Well, be creative then! Cari cara supaya kamu masih bisa berkompromi dengan perubahan-perubahan itu sambil tetap mempertahankan prinsipmu sendiri.

7. Egomaniak

Kita pastinya harus punya kepercayaan diri yang sehat dalam menjalani kehidupan. Namun, kamu harus sadar, tidak ada orang yang benar-benar sempurna dan menguasai segalanya di dunia ini. Selalu ada langit diatas langit. Jadi, jangan menjadi seorang narsistik yang selalu merasa serba bisa dan tidak butuh bantuan orang lain, percaya deh, itu cuma akan nyusahin diri kamu sendiri di akhir.

8. Berteman dengan orang-orang yang sifatnya tidak baik

Berteman dengan orang-orang dengan sifat yang buruk, pasti akan menularkan sebagian sifatnya ke diri kita juga. Itulah pentingnya membuat lingkaran pertemanan yang baik disekitar kita. Kalau memang tidak baik untuk kita, kenapa harus dipertahankan?

9. Membiarkan orang lain menentukan mimpi kita

Tidak seorang pun di dunia ini yang berhak menentukan mimpi kamu. Entah itu orang tua kamu, guru kamu, apalagi teman kamu. Kenapa? Karena kamulah nantinya yang akan menjalani semua prosesnya, bukan mereka. Jadi, jangan ikut-ikutan. Kenali diri kamu, tentukan mimpimu, dan jalani prosesnya sebaik mungkin. Mengenai tercapai atau tidaknya, ya serahkan sama yang punya kuasa.

10. Menjadi seseorang yang bukan kamu

Kamu tidak butuh mengenakan topeng untuk membuat orang lain menyukaimu. Orang yang tepat akan menyukai dirimu apa adanya. Percayalah.

Sumber : Line: All about Your Life

Minggu, 07 Februari 2016

Belajar : Hati-hati "Sudden Shift", Fenomena Perubahan Abad 21

Hati-hati "Sudden Shift", Fenomena Perubahan Abad 21

Oleh Rhenald Kasali @Rhenald_Kasali

KOMPAS.com - Lima tahun yang lalu, mantan Dirut Pertamina, Ari Soemarno pernah menyampaikan sepotong data kepada saya. Itu tentang shale gas, yang kalau sampai kongres Amerika Serikat memberi lampu hijau untuk dieksplore dan diekspor, maka harga gas dunia akan turun.

Data itu rupanya segera direspons oleh para pemain saham yang mengakibatkan harga-harga saham perusahaan tambang batu bara kita anjlok. Mengapa demikian? Inilah gejala perubahan mendasar yang disebut 3S : "Sudden Shift, Speed dan Surprise!"

Sudden Shift

Daripada mereka-reka kapan dollar AS akan kembali turun, atau tenggelam dalam rasa takut yang besar bahwa PHK besar-besaran akan terjadi, lebih baik kita paham apa yang tengah terjadi, mengapa dan bagaimana meresponsnya.

Gejala ini kita sebut sudden shift (tiba-tiba berpindah). Faktanya, konsumennya tetap di situ, populasinya tetap besar (8 miliar jiwa), semuanya butuh makan, minum, transportasi, gadget, hiburan, dan sebagainya. Tetapi siapa yang menikmati perpindahan itu?

Sudah begitu, berpindahnya mengejutkan karena seakan tiba-tiba (sudden), cepat sekali (speed) dan membuat kita terkaget-kaget (surprise). Mengapa? Karena kita mengabaikan, kita menyangkal, kita gemar berolok-olok, berpolitik, bersiasat, berpura-pura menyelamatkan (padahal menyesatkan). Kadang mengatasnamakan rakyat pula, menghiburnya, berpura-pura seakan-seakan masalahnya ada di tempat lain.

Kembali ke shale gas, Ari Soemarno memberi tahu saya bahwa cost-nya sangat rendah, demikian harga jualnya, yakni dari harga jual gas konvensional. Saya membayangkan begitu informasi itu beredar, maka para pemakai minyak (oil) pun akan beralih? Maka harga minyak pun akan goncang. Lalu pada akhirnya, tambang energi lain akan terganggu: batu bara.

Di luar dugaan saya, ternyata batu bara terkena imbasnya lebih dulu, lalu baru minyak. Maklum harga kertasnya (saham) sudah lama dijadikan buble, lagi pula ia sangat merusak lingkungan. Sekarang harga minyak dunia baru turun sekitar 50-60 persen. Para ahli menduga ia masih akan turun hingga sekitar 10 dollar AS (saat ini masih sekitar 30dollar AS) per barel.

Bisa dibayangkan kerugian apa yang akan diderita pengusaha-pengusaha minyak, kalau mereka tak berani merevolusi biaya-biaya kenikmatan yang selama ini sudah dirasakan para pegawai. Dulu, saat harga minyak di bawah 10 dollar AS per barel, mereka sanggup berproduksi dengan biaya 6 dollar AS per barel, tetapi begitu harga pasarnya 120 dollar AS per barel, mereka berproduksi dengan biaya 100 dollar AS per barel. Segala yang membuatnya mahal, akan membuat manusia meningkatkan biaya kenikmatan.

Zalora

Di Bandara Halim Perdanakusuma, saya menerima CEO Zalora Indonesia. Anak-anak muda tentu lebih tahu apa itu Zalora. Ini situs belanja online yang sedang digemari konsumen muda. Dengan belanja online, selain mendapat barang-barang baru, anak-anak muda bisa mendapat harga yang lebih murah.

Saat itu saya baru membaca data penjualan ritel Indonesia yang dilaporkan turun besar-besaran. Keadaan ekonomi pun kita persalahkan. Bahkan para politisi menduga adanya miss management dalam pemerintahan.

Saat industri ritel konvensional melaporkan penurunan 3-4 persen, Zalora justru mengatakan omzet mereka naik 240 persen. Dalam dunia online, kalau kami tumbuhnya di bawah 100 persen itu sama dengan kegagalan, ujar mereka.

Saya pikir Zalora masih kecil. Tetapi bayangan saya kembali ke tahun 1998 saat semua orang dicekam rasa takut akibat gelombang PHK. Asing pun hengkang. Ketika para ekonom di FE UI masih berpikir keras bagaimana menciptakan iklim yang kondusif agar investasi asing kembali lagi, saya memilih untuk mendorong lahirnya entrepreneur lokal.

Saya masih ingat ejekan para ekonom yang mengabaikan kemampuan bangsa ini berwirausaha. Saya bahkan ditanya, apa bisnis yang akan diekmbangkan wirausaha lokal? Saya sebutkan nama-nama produk mereka: kacang (Garuda dan Dua Kelinci), herbal (Sido Muncul), kosmetik (Wardah), bola buatan masyarakat di Majalengka dan lain-lain.

Di luar perkiraan saya, mereka mempertanyakan, Sampai kapan kacang dan jamu bisa menciptakan lapangan kerja? Yang bisa itu otomotif. Rakyat kita itu pegawai, bukan entrepreneur.

Anda tahu berapa jumlah wirausaha kita sekarang? Jangan lagi mengatakan masih di bawah 1 persen. Kalau mereka yang sudah terlibat dalam sektor informal saja sudah 60 juta orang, bisa hitung sendiri berapa banyak orang yang sudah bergulat dalam bidang kewirausahaan.

Demikian juga dengan Zalora dan mereka yang bergerak dalam sektor ekonomi kreatif lainnya. Sekarang memang masih kecil. Tetapi mereka memiliki daya disruptif yang bisa menggerus para pelaku usaha konvensional.

Semua Shifting

Pergeseran konsumsi tak hanya terjadi dalam dunia energi dan belanja melainkan dalam konsumsi di segala bentuk kehidupan kita. Semuanya bergeser. Keseimbangan baru belum terbentuk, tetapi pindah-pindahnya mulai terasa.

Minggu lalu, 17 Agustus 2015, Indonesia-X baru saja meluncurkan situs belajar bebas biaya (massive online course) di mana Rumah Perubahan ikut di dalamnya.

Pernahkah anda membayangkan bahwa kampus-kampus besar sedang berjuang melawan perubahan? Ya, di seluruh dunia, bukan cuma surat kabar berbasis kertas yang kesulitan karena hadirnya media-media online, melainkan juga kampuskampus yang kini ditantang dunia belajar online.

Bahkan gelar akademis pun kini mulai ditinggalkan para kaum terpelajar dunia. Para pemberi kerja mulai melirik merekamereka yang tak bergelar. Dari "siapa kamu" ( atau "apa gelar akademismu"), dunia manajemen mulai beralih pada apa yang bisa kamu lakukan. Lihatlah di perusahaan- perusahaan besar, di kartu-kartu nama para pimpinan dan stafnya. Tak banyak lagi yang mencantumkan gelar akademisnya.

Gerakan masif ini membuat kaum muda beralih dari membeli degree (formal) kepada membeli keahlian dan paketpaket kursus, yang mereka ramu sendiri racikannya. Bukan lagi racikan akademik yang dibuat pemerintah karena mereka ingin membangun keahlian yang unik, yang tidak massal dan siap pakai. Dan pasar tenaga kerja global pun mengakomodir mereka. Apa yang bisa mereka berikan di dunia kerja bukan lagi rangkaian matakuliah racikan kampus.

Dan Indonesia-X menjadi pelopor belajar online yang heboh. Kelak Anda bisa mengambil kursus apa saja. Karena murah (gratis), switching cost nya menjadi rendah. Dan perubahan pun terjadi.

Gojek, Uber, Seven Eleven, dan lain lain.

Kalau anda belum puas dengan contohcontoh di atas, maka pelajarilah segala fenomena di dunia transportasi, retail, telekomunikasi, trading, financing, dan sebagainya. Anda pasti akan menyaksikan gejala sudden shift ini.

Konsumen perbankan pun mulai meninggalkan kunjungan ke loket-loket bank. Mereka beralih ke mobile banking. Pemakaian voice dalam berkomunikasi beralih ke cara-cara baru: data. Dari voice ke BBM, lalu pindah lagi ke Whatsapp dan social media.

Sama halnya pertarungan sengit yang tengah dihadapi tukang-tukang ojek pangkalan vs Gojek dan Grab-Bike, atau taksi biasa Vs Uber. Semua mengalami gejala shifting.

Jadi, jangan melulu menyalahkan krisis ekonomi dunia. Karena krisis berdampak pada semua usaha dan kali ini terjadi luas di seluruh dunia. Yang jauh lebih penting bukan krisis itu sendiri. Bukan dollar AS, tetapi apa respons kita terhadap usaha yang kita jalani. Dan apa respons kita untuk mempersiapkan masa depan anak-anak kita dalam dunia yang benar-benar baru ini.

Kalau Anda diamkan, bukan krisis yang menghantam, tetapi persaingan baru melalui business model yang benar-benar berbeda.

Lagi pula, krisis selalu menjadi alasan bagi kaum malas untuk berhenti bekerja, dan bagi mereka yang senang mencari kambing untuk menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dilakukannya.

Selamat merenungkannya!

Prof Dr. Rhenald Kasali, PhD. adalah Guru Besar Ilmu Manajemen
 Fakultas Ekono[disingkat oleh WhatsApp]