Minggu, 06 Desember 2015

Pertanyaan dan persepsi

Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan ini.
Aku bersyukur Allah memberiku Dia,
Dia selalu ada dalam hidupku..
Ada saat tawa ini menghiasi wajahku,
Ada saat aku menangis tersedu meminta pertolongan apa yang harus aku lakukan, bagaimana harus bersikap kuat ??
Ia penolong, ia selalu mengerti,
Dimatanya aku memang salah dan bodoh, tapi dia memberi tahu kebodohanku, meski aku sering mengelak, ia tetap berada di sampingku.

Sayang, sekarang aku harus menguatkanmu,
Aku yakin kamu akan kuat,
Aku mengenalmu,
Aku akan berusaha setegar dirimu,
Setangguh dirimu.
Dan senyumku akan aku buat seindah dirimu,
Agar kau tak khawatir padaku.
Aku yakin suatu saat semua perkataanmu akan terbukti,
Sekarang aku harus kuat dan tetap berusaha untuk menjalani hidup. 😊

Jumat, 04 Desember 2015

Menebar manfaat mengais rezeki

Kadang aku menemukan orang yang mencari manfaat dibanding menebar manfaat. Memang tidak ada salahnya antara keduanya itu, setelah membaca tulisan mas Saptuari, aku bisa menyimpulkan pada dasarnya menebar manfaat itu ibarat menebar benih kesuksesan lewat doa2.

Aku share tulisan mas Saptuari
TRAKTIRAN DIAM-DIAM...

Pernah waktu itu saya sedang makan di sebuah rumah makan di daerah Demangan Jogja. Pengunjung ramai sekali, sambil menunggu pesanan saya lihat sekeliling, eh ada kawan saya.. mbak Dosen Ekonomi UGM itu melambaikan tangan. Saya mendekati mejanya, ngobrol sebentar, terus kami malanjutkan makan di meja masing-masing. Dia pamit duluan, saya masih menyelesaikan sesuatu sampai 15 menit kemudian saya menuju kasir untuk membayar, ketika saya sudah mengeluarkan uang, kasir di depan saya ngomong:
"Sudah dibayar mas oleh mbak yang duduk di meja sana tadi..."
Saya bengong, rejeki nomploxx!! Sorenya ketika saya SMS dia mengucapkan terima kasih untuk traktirannya, dia hanya membalas singkat.. 
"Hehe.. Aku belum pernah nraktir dirimu kan mas.."

Lain hari saya dengan istri sedang makan di sebuah rumah makan ramai di Jalan Kaliurang Jogja, ketika masuk lewat di antara meja-meja itu, laah ketemu sama kawan saya juga, suami istri pemilik bisnis rumah makan di seantero Jogja. Kami ngobrol sebentar lalu berpisah meja. Setengah jam berlalu mereka pamit, melambaikan tangan dari jauh. Giliran kami selesai, melangkah menuju kasir di dekat pintu keluar. 
"Berapa mbak? Meja nomor 17.."
"Sudah dibayar pak oleh ibu yang duduk disini tadi dengan suami dan anaknya.."
"Ooooh... Yayaya trims ya!"
Istri saya yang gantian bengong. 
Ketika saya BBM waktu itu untuk mengucapkan terimakasih, jawabannya nyaris sama: "sekali-kali nraktir dirimu mas, hehe.."

Kawan saya tinggal di Sragen, pernah bangkrut dengan hutang 6 milyar berbisnis restoran ayam goreng di Bogor. Dia memilih pulang kampung, memulai bisnisnya lagi dari sebuah warung yang kecil. Orang ini pun unik, punya kebiasaan dalam seminggu bisa 3 hari membagi-bagikan nasi bungkus di pagi hari. 40 bungkus sampai 100 bungkus dia masak sendiri, terus dia berkeliling di pagi hari mencari tukang becak, tukang sampah, bakul pasar, simbok-simbok yang ada dipinggir jalan, bahkan pengemis dan orang gila dia bagi semua.. 
Waktu berlalu, 5 tahun kemudian usahanya bangkit kembali. Warungnya menjelma menjadi restoran di beberapa tempat bahkan di luar kota. Ramainya luar biasa.. 

Merekalah orang-orang kaya sesungguhnya, mereka memberi tanpa perlu basa-basi, action tanpa perlu banyak mikir, berbagi tanpa perlu ngitung sana-sini.. 

Sebuah kebaikan pasti Allah balas dengan kebaikan, Allah yang akan mengatur jalannya hingga kebaikan itu kembali kepada kita..

Kita tidak pernah tau, dari mulut siapa doa kita dikabulkan. Saya membayangkan orang-orang yang lapar di pagi hari itu pasti sangat bersyukur mendapatkan makanan yang akan jadi tenaga menjalani hari itu.. Pengobat sakit perut yang melilit.. 

Dari mulut mereka ada doa-doa yang terucap sederhana: "ya Allah, balaskan rejeki orang yang memberikan makan padaku pagi ini.. Berilah kesehatan, panjangkan umurnya, mudahkan semua urusannya.."
Atau jika doa itupun di dalam hati, Allah tetap  mengetahui..

Bayangkan, ada 40 orang bahkan 100 orang yang mendoakannya pagi itu, membuat pintu langit terbuka dengan ketukan doa-doa, lalu Allah menaburinya dengan rahmat dan keberkahan dalam hidupnya..
Allah kirimkan malaikat untuk mengawalnya.. Menjaganya dari keburukan, kecelakaan, kesulitan.. 

Ambil kaca.. Bagaimana dengan kita? 
Mungkin kita masuk golongan orang yang medit dan pelit? Ketika makan bersama kawan-kawan memilih mengeluarkan dompet belakangan, sambil melirik kiri kanan, berharap ada yang duluan membayarkan.. Hehe
Ketika ada yang membayari, dalam hati langsung teriak... "Yesss!!! Ngirit lagi!!"
sekali berhasil, berikutnya terulangi, jadi kebiasaan tiap makan bareng, punya uang tapi mendadak kere, sepertinya dompet dipasang lem disaku belakang.. 

Ada juga yang lapar dan berburu makan gratisan. Cukup bermodal baju batik, dan amplop kosong, menyelinap diantara tamu resepsi pernikahan. Cukup mengisi nama abal-abal di buku tamu, senyum sedikit kesana-sini, masuk dan berbaur dengan para tamu, semua makanan harus diserbu. Aah tak perlu lah salaman dengan pengantin itu, toh mereka juga tidak tau.. 

Ayooo kita ambil kaca lagi, aaah.. Saya termasuk golongan yang mana yaaa? 
Saya bermental kaya? Atau saya ternyata masih mental miskin seutuhnya.. 

Salam,
@Saptuari

Kamis, 03 Desember 2015

Rabu, 02 Desember 2015

Petuah Papap

Mungkin ini akan jadi cerita atau jadi kenangan.
Jadi papap aku dari dulu hingga sekarang dan *mungkin* seterus nya memang punya hobi ceramah. Karena rasa sayang pada anak nya yang tinggi dengan sifat yang protektif.

Aku tipekal orang yang cepet lupa alias masuk telinga kanan keluar lagi telinga kiri.. cuma inget sebentar abis itu lupa lagi.

Aku akan tulis petuahnya mulai dari sekarang.. hihihihi...

I love Papap ❤❤

Jodoh - Tere Liye

*Jodoh itu....

1. Jangan menikah karena kesepian, menikah karena orang lain sudah menikah semua, tinggal kita seorang yang belum, aduhai, pernikahan itu bukan trend, yang semua orang bisa ikut-ikutan, apalagi karena nggak enak terlihat aneh sendiri. Dan terlepas dari itu, catat baik-baik, banyak orang yang setelah menikah, dia tetap merasa sepi, sendirian.

2. Jangan menikah karena alasan orang lain. Itu betul, dalam peristiwa dramatis, kita bisa segera menikah agar orang tua sempat menyaksikan sebelum meninggal, agar mereka bahagia. Tapi menikahlah karena alasan kita sendiri, jadikan itu patokan terbesar. Karena yang menjalani kehidupan berumah-tangga itu adalah kita, bukan orang lain. Dan karena, jika besok lusa pernikahan itu gagal, kita tidak menyalahkan orang lain--itu sungguh tiada manfaatnya.

3. Semua pernikahan itu punya masalah. Bohong jika ada yang bilang keluarga mereka baik-baik saja sepanjang masa. Lantas kenapa sebuah pernikahan bisa awet? Karena ada yang sabar dan mengalah. Satu-satunya bekal pernikahan yang tiada pernah kurang adalah: sabar. Punya sabar segunung, tetap kurang banyak. Punya sabar selangit, pun tetap kurang banyak. Jadi bekalnya tidak harus mobil, rumah, peralatan dapur, dsbgnya. Sekelas Umar Bin Khattab saja masih membutuhkan rasa sabar ekstra.

4. Kita tidak pernah tahu siapa jodoh terbaik kita. Tidak ada alatnya, tidak ada aplikasinya, dan tidak akan ditemukan. Kita baru tahu setelah kita menjalani pernikahan tersebut. Dan rumitnya, itu juga belum cukup. Banyak yang berpisah jalan setelah sekian lama menikah. Lantas kapan dong kita baru tahu persis? Tidak ada jawabannya. Nah, dengan situasi seperti itu, jangan habiskan waktu dengan cemas apakah ini jodoh terbaik atau bukan. Jika kalian muslim, tegakkanlah shalat istikharah, dapatkan keyakinan, kemudian bismillah, jalani dengan mantap.

5. Well, tidak ada jodoh yang sempurna di dunia ini. Semua orang pasti punya kekurangan. Ada yang ganteng/cantik pol, ternyata kalau tidur ngoroknya seperti sirene. Ada yang bertanggung-jawab nan setia, ternyata pelupa, dia lupa harus menjemput istrinya di manalah. Tapi kita selalu bisa membuat yang tidak sempurna itu menjadi indah, keren, seperti pelangi, sepanjang kita bersedia menerima kekurangannya. Orang2 yang sibuk memasang kriteria sempurna bagi calon jodohnya, akan hidup sendiri hingga alien menyerang bumi.

6. Tidak ada yang tahu kapan persisnya kita akan menikah. Eh, yang masih kecentilan, manja-manja, ternyata besok sudah menikah, atau malah punya anak dua. Yang terlihat dewasa sekali, sudah siap sekali, bahkan bijak nian bicara soal menikah, ternyata bertahun-tahun tetap sendiri. Maka, saat kita tidak tahu kapan jodoh itu akan datang, fokuslah memperbaiki diri sendiri. Saat kesempatannya datang, ingatlah nasehat lama, kesempatan baik tidak datang dua kali. Tapi ketika kesempatannya lolos, gagal, juga ingatlah petuah orang tua, akan selalu ada kesempatan2 berikutnya bagi orang yang sabar.

7. Pekerjaan tetap, mapan, dan lain-lain itu jangan dijadikan syarat mutlak mencari jodoh. Itu betul, sungguh menyenangkan jika jodoh kita ternyata sudah mapan, berkecukupan. Tapi boleh jadi akan lebih spesial lagi, jika kita bersama-sama menjalani hidup sederhana, untuk kemudian menjadi lebih baik setiap harinya. Lebih baik pastikan saja, semua pihak memahami tanggungjawabnya. Misal, adalah tanggungjawab suami mencari nafkah. Boleh istri bekerja? Ikut membantu nafkah keluarga? Dikembalikan ke masing2 pasangan mau seperti apa. Tapi jelas sekali, jika istri bekerja, penghasilannya adalah milik dia--soal dia mau memberikannya ke keluarga atau tidak, itu urusan dia. Tanggungjawab mutlak tetap ada di suami. Pemahaman2 seperti ini penting loh, agar kalian laki-laki yang sekarang sibuk galau, apalagi sibuk tebar pesona, tahu persis saat menikah nanti.

8. Mencari jodoh itu tidak rumit. :) Ini beneran loh. Mencari jodoh itu sederhana. Kalian bisa meminta orang tua mencarikan (karena itu juga salah-satu kewajiban mereka). Juga bisa minta sahabat menjadi intel perjodohan. Jodoh itu ada di mana-mana, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di angkutan umum saat berangkat beraktivitas, di mesjid, di komplek rumah, dll, dll. Tapi kenapa kadang terasa rumit sekali? Karena kitalah yang membuatnya rumit. Catat baik-baik, di dunia ini sudah milyaran orang pernah menikah. Milyaran pasangan. Nah, di mana rumitnya jika orang lain toh milyaran telah menikah.

9. Terakhir, kalau kalian mau belajar banyak hal tentang jodoh, maka jangan belajar dari novel2 (apalagi novel Tere Liye), dari film fiksi, dari sinetron, serial. Aduh, itu fiksi loh. Dikarang2 saja sama penulis ceritanya. Melainkan belajarlah dari orang tua di sekitar kalian. Kakek-nenek, opa-oma, mbah buyut, yang sudah menikah puluhan tahun, tapi tetap langgeng dan bahagia. Amati, pelajari, dengarkan nasehat mereka, itu penting sekali, kehidupan mereka bisa jadi contoh. Maka besok lusa saat kita menikah, mendadak muncul masalah serius, kita bisa meneladani mereka, bagaimana cara mereka mengatasi masalah. Itu selalu bisa jadi pelajaran kehidupan yang tiada ternilai.

*Tere Liye

Selasa, 01 Desember 2015

Hidup untuk ikhlas atau ikhlas untuk hidup

Ujian itu adalah sesuatu yang kita pertahankan. Ego.
Penderitaan itu muncul karena ada yang disebut dengan ketidak sesuaian antara harapan dan kenyataan. 
Kekecewaan muncul ketika terlalu mengharapkan sesuatu sesuai dengan kenyataan.

Kemudian, apa yang harus aku lakukan??
Berharap 'ikhlas' itu mudah ??
Atau berusaha 'meng'ikhlaskan ??

Ya Tuhan...
Terlalu banyak yang tidak aku ketahui..
Kadang aku berfikir, aku sudah melampaui batas.
Batasanku sebagai manusia adalah berdoa dan ikhtiar,
Bukan seperti sekarang ini..
Aku berharap dan menegaskan sesuatu.

Ujianku adalah yang aku pertahankan, 
egoku untuk menjadi yang sempurna sesuai paradigma manusia.
Padahal manusia apa aku ini??

Ahh, dasar manusia. 
Bagaimana bisa manusia harus terlihat baik di mata manusia lainnya?
Sedangkan manusia tidak pernah mengerti sesama manusia,
Bahkan manusia itu sendiri yang bilang manusia tidak pernah ada yang sama,
Lalu untuk apa manusia saling menyalahkan?

Aku berusaha ikhlas, aku berusaha ikhlas, aku berusaha ikhlas.
Aku perlu hidup untuk ikhlas,
Aku harus ikhlas untuk hidup.